Beberapa hari lalu, saya beli KFC di perkantoran di daerah
Sudirman.
Tidak berapa lama saya order pesanan, datanglah 3 anak yg
kemungkinan besar adalah para pengamen2 cilik (mohon maaf sy tidak bermaksud
merendahkan) di perempatan lampu merah jalan raya perkantoran itu. Salah satu
dari mereka (bias dikatakan pemimpin rombongan barangkali) menggenggam uang Rp.
20.000,-.
Saya dilayani oleh staf “the star” of the month. Sambil
menunggu mereka memilih menu, seorang karyawan yang seharusnya melayani ketiga
bocah itu bertanya dengan bimbang kepada “the star”, teringat dalam ingatanku
dia menanyakan: “gimana nich? (sambil menunjuk ketiga bocah). Saya mau nganter
kembalian dulu.” (kurang lebih seperti itu)
Tidak lama orderan saya datang dan saya bertanya kepada “the
star”, “Kok gak dilayanin Mas?” Yang di jawab, “tadi orangnya mau antar
kembalian dulu.” (sambil tersenyum) Dan memang tidak lama kemudian mereka
dilayani oleh seorang pelayan lain.
Sewaktu melihat n mendengar ketiga gadis cilik itu tidak
dilayani terlebih dulu, dalam hati saya berjanji, apabila ketiga bocah tersebut
sampai tidak dilayani oleh hanya karna penampilan dan hanya membawa uang 20rb
tentu saya akan memprotes.
Karena, seburuk apapun penampilan n sesedikit apapun seorang
konsumen membeli produk dan jasa perusahaan (dalam hal ini restoran), konsument
tetap sebagai RAJA. Kepuasan konsumen adalah hal terutama. Tidak boleh
dipandang hanya dari penampilan dan banyaknya yang dibeli.
Timbul pertanyaan dari dalam diri saya, mereka membeli KFC karena
doyan KFC (dan sejenisnya), atau karena ada sedikit kelebihan uang sehingga
ingin sedikit menghibur diri dengan berbagi KFC, atau karna apa ya?
Kalau karena doyan apa semua anak2 kurang mampu seperti
mereka (sekalilagi maaf bukan merendahkan) doyan/suka dengan ayam goreng KFC
(atau sejenisnya)??
Karna teringat dalam ingatan saya, beberapa bulan lalu saya
mengikuti acara social yang mengundang anak2 dari panti2 asuhan. Menu makan
siangnya adalah paket nasi dari KFC. Hmm… Rata2 dari mereka tidak memakan
ayamnya malah memakan perkedel dan nasi. Ada
yg ayamnya dibuang. Ada
yg lebih bijak menyimpannya di tas untuk dibawa pulang.
Dan kalau karena untuk sedikit menghibur diri, bukankah
lebih baik uangnya digunakan dengan lebih bijaksana?
Dan untuk alasan lain, aku belum tahu.
Hmm… Tulisan ini hanya sekedar sharing apa yang ku lihat dan
kupikirkan. So, Komennya jangan terlalu “keras” ya. Hehehe…
Mat pagi menjelang subuh.
Salam
VeNeSia